Kembali aku sentuh catatan ini. Setelah beberapa minggu, sejak catatan terakhir kali, ketika engkau dan aku masih di Warungasem. Sudah 24 hari kita mengakhiri pentas kita di sana. Terhitung sejak tanggal 09 November hingga kini, 22 November 2014. Aku senang sebab kekhawatiranku bahwa kita tak akan lagi bertegur sapa, kekwatiranku sebab engkau tak menyukai sebungkus cerita yang aku tuliskan dalam satu paket buku catatan, tidak terjadi.
Kita masih dalam cakap walau tanpa akad. Kadang kita mesra meski belum ada kesepakatan tentang cinta. Dan sepertinya engkau bahagia ketika aku selalu hadir dalam canda.
Catatan ini akan dimulai dari pertemuan kita untuk pertama kali pasca KKN. Engkau masih ingat bukan bahwa aku yang menjemputmu di stasiun poncol, ketika engkau dari rumahmu di tegal sana, baru kembali ke semarang. Engkau masih ingat juga kan bahwa aku yang membawa motormu dari batang. Dan engkau juga yang membuatku tetap tenang dengan kata rindu yang engkau ucapkan setelah aku dibuat tidak nyaman ketika pacarmu menjemputmu untuk pulang. Yah, aku masih ingat semuanya. Dan agar cerita itu tidak hilang, aku mulai mencatatatnya lagi. Catatan ini akan tetap abadi sekalipun, andaikan, suatu saat cintaku telah tidak abadi karena engkau telah tidak menginginkannya. Sebaliknya, ini akan menjadi cerita perjalanan cinta, antara engkau dan aku yang akan kita buka dan baca kembali saat kita telah sama dewasa dalam gubuk yang sama. Kita akan sama-sama mengulum senyum betapa setiap perjalanan antara engkau dan aku selalu tercatat dalam narasi yang nyata.
Pagi itu kita duduk berdampingan di sebuah warung makan di daerah Ngaliyan. Aku dengan sepiring nasi lele dan engkau hanya dengan segelas jus. Engkau sudah sarapan, karena itu engkau tidak ikut sarapan denganku. Hanya menemaniku. Di samping kananku engkau duduk dan kita pun dalam cerita.
Ceritamu tentangku. Engkau nyatakan tak dapat menerimaku. Bahkan, engkau sempat berkata, jika dianggap lebih baik, aku harus menjauh darimu. Aku menyakinkanmu bahwa aku tak akan menjauh darimu sekalipun engkau tak dapat menerimaku.
“Kita tinggal jalani saja. Aku tidak apa-apa” kataku.
“Kita sudah berteman baik di KKN. Jangan karena hal ini kita memutus hubungan”tambahku.
Engkau setuju setelah memastikanku tidak akan kecewa jika aku hanya menunggu dengan harapan kosong. Bagiku, itu pukulan berat dan menyayat. Namun aku masih dalam sadar bahwa rasa tak dapat dipaksa. Engkau berhak bahagia dan memilih kebahagiaanmu sendiri tanpa aku memaksa. Aku selalu berusaha menenangkan diri terutama saat kesempatan lain mengijinkan kita untuk saling bertemu dan bercakap.
Ceritaku tantangmu. Satu pembacaan terhadapmu bahwa engkau adalah tipe wanita yang menginginkan lelaki sempurna. Namun dalam kenyataan engkau justru lebih tertarik dengan ketidak sempurnaan agar engkau selalu berinvest kepada lelaki itu. Engkau adalah tipe wanita yang ingin mengurus lelakimu. Dan sebagai balasan, engkau dihargai dan disayangi dengan sangat dan penuh. Engkau membenarkan perkataanku.
Hari itu berlalu. Dan pertemuan kita tak sekerap dulu. Hanya kita tak saling memutus, percakapan jarak jauh melalui BBM atau SMS. Akupun tak ingin pertemuan kita berakhir. Bagaimanapun caranya selalalu aku pikirkan setiap waktu termasuk ketika aku menahan motormu. Aku meminjamnya agar kita masih ada kesempatan walau sekilas dalam temu. Termasuk ketika aku meminta bantuanmu untuk megerjakan tugasku. Termasuk ketika aku meminjam bukumu. Hakikat dari itu, aku ingin selalu bertemu selalu menjalin kerjasama denganmu. Ya, karena dalam pandanganku engkau lebih suka dengan pekerjaan yang dikerjakan bersama-sama. Kita akan bermain peran dalam banyak kesempatan. Kita akan bermain peran dalam satu pekerjaan yang selalu dikerjakan bersama. Engkau lebih suka itu, dari pada aku mengerjakannya untukmu atau engkau mengerjakannya untukku.
Waktu berlalu. Semuanyapun kini benar-benar berlalu. Aku Mengerti Engkau terlalu baik untukku.
Kita masih dalam cakap walau tanpa akad. Kadang kita mesra meski belum ada kesepakatan tentang cinta. Dan sepertinya engkau bahagia ketika aku selalu hadir dalam canda.
Catatan ini akan dimulai dari pertemuan kita untuk pertama kali pasca KKN. Engkau masih ingat bukan bahwa aku yang menjemputmu di stasiun poncol, ketika engkau dari rumahmu di tegal sana, baru kembali ke semarang. Engkau masih ingat juga kan bahwa aku yang membawa motormu dari batang. Dan engkau juga yang membuatku tetap tenang dengan kata rindu yang engkau ucapkan setelah aku dibuat tidak nyaman ketika pacarmu menjemputmu untuk pulang. Yah, aku masih ingat semuanya. Dan agar cerita itu tidak hilang, aku mulai mencatatatnya lagi. Catatan ini akan tetap abadi sekalipun, andaikan, suatu saat cintaku telah tidak abadi karena engkau telah tidak menginginkannya. Sebaliknya, ini akan menjadi cerita perjalanan cinta, antara engkau dan aku yang akan kita buka dan baca kembali saat kita telah sama dewasa dalam gubuk yang sama. Kita akan sama-sama mengulum senyum betapa setiap perjalanan antara engkau dan aku selalu tercatat dalam narasi yang nyata.
Pagi itu kita duduk berdampingan di sebuah warung makan di daerah Ngaliyan. Aku dengan sepiring nasi lele dan engkau hanya dengan segelas jus. Engkau sudah sarapan, karena itu engkau tidak ikut sarapan denganku. Hanya menemaniku. Di samping kananku engkau duduk dan kita pun dalam cerita.
Ceritamu tentangku. Engkau nyatakan tak dapat menerimaku. Bahkan, engkau sempat berkata, jika dianggap lebih baik, aku harus menjauh darimu. Aku menyakinkanmu bahwa aku tak akan menjauh darimu sekalipun engkau tak dapat menerimaku.
“Kita tinggal jalani saja. Aku tidak apa-apa” kataku.
“Kita sudah berteman baik di KKN. Jangan karena hal ini kita memutus hubungan”tambahku.
Engkau setuju setelah memastikanku tidak akan kecewa jika aku hanya menunggu dengan harapan kosong. Bagiku, itu pukulan berat dan menyayat. Namun aku masih dalam sadar bahwa rasa tak dapat dipaksa. Engkau berhak bahagia dan memilih kebahagiaanmu sendiri tanpa aku memaksa. Aku selalu berusaha menenangkan diri terutama saat kesempatan lain mengijinkan kita untuk saling bertemu dan bercakap.
Ceritaku tantangmu. Satu pembacaan terhadapmu bahwa engkau adalah tipe wanita yang menginginkan lelaki sempurna. Namun dalam kenyataan engkau justru lebih tertarik dengan ketidak sempurnaan agar engkau selalu berinvest kepada lelaki itu. Engkau adalah tipe wanita yang ingin mengurus lelakimu. Dan sebagai balasan, engkau dihargai dan disayangi dengan sangat dan penuh. Engkau membenarkan perkataanku.
Hari itu berlalu. Dan pertemuan kita tak sekerap dulu. Hanya kita tak saling memutus, percakapan jarak jauh melalui BBM atau SMS. Akupun tak ingin pertemuan kita berakhir. Bagaimanapun caranya selalalu aku pikirkan setiap waktu termasuk ketika aku menahan motormu. Aku meminjamnya agar kita masih ada kesempatan walau sekilas dalam temu. Termasuk ketika aku meminta bantuanmu untuk megerjakan tugasku. Termasuk ketika aku meminjam bukumu. Hakikat dari itu, aku ingin selalu bertemu selalu menjalin kerjasama denganmu. Ya, karena dalam pandanganku engkau lebih suka dengan pekerjaan yang dikerjakan bersama-sama. Kita akan bermain peran dalam banyak kesempatan. Kita akan bermain peran dalam satu pekerjaan yang selalu dikerjakan bersama. Engkau lebih suka itu, dari pada aku mengerjakannya untukmu atau engkau mengerjakannya untukku.
Waktu berlalu. Semuanyapun kini benar-benar berlalu. Aku Mengerti Engkau terlalu baik untukku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar