Kembali aku sentuh catatan ini. Setelah beberapa minggu, sejak catatan terakhir kali, ketika engkau dan aku masih di Warungasem. Sudah 24 hari kita mengakhiri pentas kita di sana. Terhitung sejak tanggal 09 November hingga kini, 22 November 2014. Aku senang sebab kekhawatiranku bahwa kita tak akan lagi bertegur sapa, kekwatiranku sebab engkau tak menyukai sebungkus cerita yang aku tuliskan dalam satu paket buku catatan, tidak terjadi.
36 Hari Dalam Sebungkus Cerita."Tangan ini yang akan mengatakan.Lidahku tak pandai bertutur dan terlalu kasar untuk orang selembut engkau".
Minggu, 12 April 2015
Minggu, 11 Januari 2015
Awal Kata
Teruntuk yang istimewa. Yang mengajarkanku ketenangan. Inilah aku dengan jiwa yang terpotong. Mengajimu dalam huruf tanpa harokat, dalam lafal tanpa sakal, dan dalam kalimat ambiguitas dari sebuah pesan. Ini sebuah catatan. Coretan perjalanan hati dalam sebuah ‘pementasan’. Atau mungkin lebih tepat dengan sebuatan sebuah mimpi dari tidur yang hanya sebentar.
Ini Catatan Hati
Catatan [1]
Status saya hari ini.
Aku senang jika engkau senang. Diam-diam aku memperhatikanmu dari dekat saat kita dalam tempat yang sama. Di tempat makan atau di balai desa saat kita kumpul untuk satu agenda. Atau di tempatmu yang tak jauh dari balai desa. Engkau selalu tersenyum, tertawa lepas saat teman-teman termasuk aku mengeluarkan lelucon. Ya, kita dalam satu tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) IAIN Walisongo Semarang. Di posko 3 Desa Batang Batang.
_Aku senang jika engkau senang. Dalam diam kukatakan. Kata tanya yang tak perlu engkau jawab. Namun perlu engkau tanggap walau sekadar dengan senyum kecut.
Status saya hari ini.
Aku senang jika engkau senang. Diam-diam aku memperhatikanmu dari dekat saat kita dalam tempat yang sama. Di tempat makan atau di balai desa saat kita kumpul untuk satu agenda. Atau di tempatmu yang tak jauh dari balai desa. Engkau selalu tersenyum, tertawa lepas saat teman-teman termasuk aku mengeluarkan lelucon. Ya, kita dalam satu tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) IAIN Walisongo Semarang. Di posko 3 Desa Batang Batang.
Engkau dalam Catatan Kedua
Catatan [2]
Ya, kenapa aku jadi kurang bersemangat untuk melakukan apapun di tempat ini. Posko 3 tempat kita bersama menjalankan tugas Kuliah Kerja Nyata, KKN. Ketika itu engkau pulang untuk sementara waktu. Karena memperingati hari besar Islam. Idul Adha. Dan bagimu, barangkali tak ada keindahan kecuali berkumpul bersama keluarga.
_Tentang kerinduan yang mungkin terlalu berlebihan dan tak pernah engkau tahu. Tentang engkau dan aku, ketika telah usai cerita ini kita Lakonkan.
Ya, kenapa aku jadi kurang bersemangat untuk melakukan apapun di tempat ini. Posko 3 tempat kita bersama menjalankan tugas Kuliah Kerja Nyata, KKN. Ketika itu engkau pulang untuk sementara waktu. Karena memperingati hari besar Islam. Idul Adha. Dan bagimu, barangkali tak ada keindahan kecuali berkumpul bersama keluarga.
Engkau dalam Catatan Ketiga
Catatan [3]
_Tentangmu dalam catatan ketiga, sepertinya
akan lebih berbau antagonis
Dalam catatan kedua membicarakanmu soal kerinduan yang akan aku alami setelah saatnya kita kembali, mengakiri pentas 36 hari kita di desa orang. Sedangkan pertanyaan pertama yang muncul dalam catatan pertama mengenai statusmu hari ini.
_Tentangmu dalam catatan ketiga, sepertinya
akan lebih berbau antagonis
Dalam catatan kedua membicarakanmu soal kerinduan yang akan aku alami setelah saatnya kita kembali, mengakiri pentas 36 hari kita di desa orang. Sedangkan pertanyaan pertama yang muncul dalam catatan pertama mengenai statusmu hari ini.
Perempuan dalam Cerita Senja
Catatan [4]
Di senja ini. Aku mematung diri. Sembari mendengarkan dendang lagu. Nyaring, memenuhi sudut-sudut ruangan tempat aku tinggal untuk sementara waktu. Sesekali lagu itu keluar dari bibir-bibir basah rekan-rekan atau tamu dari kelompok lain yang sengaja atau tidak mampir di tempat kami. Ya, kami sedang menjalankan tugas kampus yang disebut dengan praktik lapangan, pengabdian pada masyarakat, kuliah di kehidupan yang senyatanya, belajar berbaur memahami kondisi masyarakat, memahami persoalan yang ada di sana dan kami mencoba menjadi penawar atas penyakit sosial itu.
Di senja ini. Aku mematung diri. Sembari mendengarkan dendang lagu. Nyaring, memenuhi sudut-sudut ruangan tempat aku tinggal untuk sementara waktu. Sesekali lagu itu keluar dari bibir-bibir basah rekan-rekan atau tamu dari kelompok lain yang sengaja atau tidak mampir di tempat kami. Ya, kami sedang menjalankan tugas kampus yang disebut dengan praktik lapangan, pengabdian pada masyarakat, kuliah di kehidupan yang senyatanya, belajar berbaur memahami kondisi masyarakat, memahami persoalan yang ada di sana dan kami mencoba menjadi penawar atas penyakit sosial itu.
Lembut Tutur dan Dalam Sikap
Catatan [5]
[1]
Semakin terasa, engkau dalam lembut, memperlakukan anak-anak itu adalah satu keistimewaan tiada duanya. Engkau adalah calon pendidik yang akan mengajari banyak orang, kelak, terutama untuk anak-anakmu agar ia menjadi orang hebat. Engkau adalah calon ibu yang akan mengerti akan kebutuhan kasih sayang seorang anak.
[1]
Semakin terasa, engkau dalam lembut, memperlakukan anak-anak itu adalah satu keistimewaan tiada duanya. Engkau adalah calon pendidik yang akan mengajari banyak orang, kelak, terutama untuk anak-anakmu agar ia menjadi orang hebat. Engkau adalah calon ibu yang akan mengerti akan kebutuhan kasih sayang seorang anak.
Tentangmu Dalam Sebuah Perjalanan
Catatan [6]
Engkau yang selalu menjadi objek dalam catatanku. Catatan khusus yang aku buat karena engkau aku kagumi. Dari semula biasa hingga engkau menjadi luar biasa seiring waktu sering mempertemukan kita. Setiap hari bahkan setiap saat, dimana, hanya engkau yang menjadi fokus perhatianku. Engkau mungkin tak tahu bahkan curigapun tidak. Aku diam-diam dan sengaja aku lakukan agar tak ada kerenggangan diantara kita andai engkau tak suka.
_Enggel-nya belum dapat. Tapi objeknya sudah. Engkau. Ini cerita. Bukan Berita
Engkau dan Masa Silam Yang Sempat Kumimpikan
Catatan [7]
PM itu sempat engkau tanyakan. Sebab tak ada kata ‘tahun’. Ingatanku melompat ke masa sekitar enam tahun silam. Aku bermimpi dalam sadar, aku sempat mendamba seorang kekasih: mengendarai motor metic, memakai helm tanpa menanggalkan kerudung. Mimpi itu terlintas begitu saja. Aku memaknainya dengan sebuah keanggunan.
_Ingatanku melompat ke masa sekitar 6 tahun silam
PM itu sempat engkau tanyakan. Sebab tak ada kata ‘tahun’. Ingatanku melompat ke masa sekitar enam tahun silam. Aku bermimpi dalam sadar, aku sempat mendamba seorang kekasih: mengendarai motor metic, memakai helm tanpa menanggalkan kerudung. Mimpi itu terlintas begitu saja. Aku memaknainya dengan sebuah keanggunan.
Dasar Aku Tak Tau Diri
Catatan [8]
Kulihat raut wajah berbeda ketika kucandakan soal anak pak lurah. Tentang dia yang ingin belajar bahasa arab. Tentang dia yang membutuhkan pembimbing dari kita. Sepertinya engkau tak begitu suka lelaki yang ngomong ceplas-ceplos soal wanita. Aku melihat engkau walau tak secara terus menerus dengan tatapan langsung. Ini hanya dugaan.
_Maaf itu ketika aku berbuat salah. Tak akan terulang satu kata yang karena itu engkau tak suka.
Sebenarnya Aku Merasa Malu
Catatan [9]
[1]
Ini ada hubungannya dengan cerita tadi malam. Ketika kita di sebuah keramaian. Di Pekan Raya Batik Nusantara Pekalongan. Aku yang perokok beberapa kali kuambil gambarku dengan ragam phose. Phose yang menurut kebanyakan orang termasuk engkau mungkin memalukan. Mirip sakau.
[1]
Ini ada hubungannya dengan cerita tadi malam. Ketika kita di sebuah keramaian. Di Pekan Raya Batik Nusantara Pekalongan. Aku yang perokok beberapa kali kuambil gambarku dengan ragam phose. Phose yang menurut kebanyakan orang termasuk engkau mungkin memalukan. Mirip sakau.
Dia Katakan Hal Yang Sama Tentang ke-Imud-an Mu
Catatan [15]
Perkataan yang sama juga keluar dari mulut orang lain.
Aku mengamini. ‘iya, engkau benar’ kataku dalam hati.
Aku lupa nama anak itu. Ia katakan ketika sedang mengikuti kelas ‘mengarang’. Ia berbisik.
Perkataan yang sama juga keluar dari mulut orang lain.
Aku mengamini. ‘iya, engkau benar’ kataku dalam hati.
Aku lupa nama anak itu. Ia katakan ketika sedang mengikuti kelas ‘mengarang’. Ia berbisik.
Senang-Sedih saat Banyak Waktu Kita Bersama
Catatan [16]
Antara senang dan sedih saat banyak waktu kita selalu bersama. Senang karena setiap waktu dapat kulihat engkau, dengan senyum yang selalu mengembang. Atau percakapan kita yang mulai mencair terutama ketika aku dapat mencandaimu. Dan setelah itu aku mulai tersadar, kalau kita hanya dalam panggung sementara. Saat-saat, mungkin, dimana tak akan ada lagi pertemuan, dan senda itu perlahan telah memudar. Dan tentang kesadaran bahwa hati yang engkau punya telah lebih dulu engkau pertaruhkan untuk orang lain.
Antara senang dan sedih saat banyak waktu kita selalu bersama. Senang karena setiap waktu dapat kulihat engkau, dengan senyum yang selalu mengembang. Atau percakapan kita yang mulai mencair terutama ketika aku dapat mencandaimu. Dan setelah itu aku mulai tersadar, kalau kita hanya dalam panggung sementara. Saat-saat, mungkin, dimana tak akan ada lagi pertemuan, dan senda itu perlahan telah memudar. Dan tentang kesadaran bahwa hati yang engkau punya telah lebih dulu engkau pertaruhkan untuk orang lain.
Kulihat Engkau Dalam Sedih
Catatan [17]
Engkau dalam sedih. Aku merasakannya hari ini. Lewat tulisan singkat dalam media sosial. Sendiri dan tanpa tujuan.#motor2an sore_ngilangin beteyyy# *tear*
“Yang penting jangan kebut2an yuu,” kataku. Engkau hanya tersenyum lewat symbol yang engkau tulis.
Engkau dalam sedih. Aku merasakannya hari ini. Lewat tulisan singkat dalam media sosial. Sendiri dan tanpa tujuan.#motor2an sore_ngilangin beteyyy# *tear*
“Yang penting jangan kebut2an yuu,” kataku. Engkau hanya tersenyum lewat symbol yang engkau tulis.
Kataku Yang Kau Suka
Catatan [18]
Itu kataku yang kau suka. Kata yang sebenarnya kepada engkau aku khususkan. Kata yang aku sampaikan lewat media sosial. Kata pertama yang engkau suka setelah kata-kata lain telah banyak kukatakan.
Aku senang engkau menyukai sekalipun, mungkin, engkau tak tahu kata itu untuk siapa. Dan lebih senang andai engkau menegrti, lewat nalurimu, kata itu memang untuk engkau aku khususkan.
Malam itu kita dalam satu ruangan. Ruangan yang seringkali mempertemukan kita selain di meja makan. Kantor balai desa. Sempatku mendengar engkau menyanyi. Sebuah lagu tentang kehidupan dua insan, kenangan, kalau tidak salah. Sembari aku sibuk dengan laptop, diam-diam aku mendengarkan engkau menyanyi.
Malam itu juga kita dalam cakap yang panjang. Aku tidak menyangka engkau akan menghampiriku dan duduk di sampingku dalam waktu yang tidak sebentar. Ketika engkau mendekat, engkau mungkin tak tahu, kalau aku tengah menulis catatan ini. bukan proposal skripsi yang aku perbaiki. Untuk cepat-aku berpindah halaman, hingga engkau tak tahu kalau sebenarnya catatan ini yang aku tuliskan. Aku menutupnya, menunda menuliskannya, saat kita dalam kebersamaan.
Aku dalam cerita. Engkau dalam cerita. Kita dalam cerita bersama yang tanpa rencana. Sebagian ceritamu tentang alasan mengapa bisa sampai di IAIN dan dalam jurusan bahasa inggris. Karena senang, katamu. Engkau juga bercerita keinginanmu kuliah di jurusun kebidanan. Karena tak mendapat izin dari keluargamu, keinginan itu tidak tercapai.
Kita sempat dalam satu pemikiran. Soal pengabdian, menjadi pendidik di sekolahan. Engkau dan aku ingin mengabdi dengan murni mengabdian. Bukan karena profesi untuk menunjang kebutuhan finansial. Engkau dan aku akan bekerja, berkarir lebih dulu sampai kebutuhan ekonomi terpenuhi sebelum akhirnya mengabdikan menjadi seorang pendidik. Satu tujuan mulia yang memang dan sungguh aku telah lama merencanakannya. Kita juga sempat bersalaman karena kesamaan pikiran.
Aku senang karena kulihat engkau senang malam itu. Aku senang karena engkau senang. Apalagi kalau aku yang menyenangkanmu. Jika memang benar engkau dalam senang, doaku agar ia tak dapat hilang.
Batang, 16 Oktober 2014
_Tangan ini yang akan mengatakan. Lidahku tak pandai bertutur dan terlalu kasar untuk orang selembut engkau
Itu kataku yang kau suka. Kata yang sebenarnya kepada engkau aku khususkan. Kata yang aku sampaikan lewat media sosial. Kata pertama yang engkau suka setelah kata-kata lain telah banyak kukatakan.
Aku senang engkau menyukai sekalipun, mungkin, engkau tak tahu kata itu untuk siapa. Dan lebih senang andai engkau menegrti, lewat nalurimu, kata itu memang untuk engkau aku khususkan.
Malam itu kita dalam satu ruangan. Ruangan yang seringkali mempertemukan kita selain di meja makan. Kantor balai desa. Sempatku mendengar engkau menyanyi. Sebuah lagu tentang kehidupan dua insan, kenangan, kalau tidak salah. Sembari aku sibuk dengan laptop, diam-diam aku mendengarkan engkau menyanyi.
Malam itu juga kita dalam cakap yang panjang. Aku tidak menyangka engkau akan menghampiriku dan duduk di sampingku dalam waktu yang tidak sebentar. Ketika engkau mendekat, engkau mungkin tak tahu, kalau aku tengah menulis catatan ini. bukan proposal skripsi yang aku perbaiki. Untuk cepat-aku berpindah halaman, hingga engkau tak tahu kalau sebenarnya catatan ini yang aku tuliskan. Aku menutupnya, menunda menuliskannya, saat kita dalam kebersamaan.
Aku dalam cerita. Engkau dalam cerita. Kita dalam cerita bersama yang tanpa rencana. Sebagian ceritamu tentang alasan mengapa bisa sampai di IAIN dan dalam jurusan bahasa inggris. Karena senang, katamu. Engkau juga bercerita keinginanmu kuliah di jurusun kebidanan. Karena tak mendapat izin dari keluargamu, keinginan itu tidak tercapai.
Kita sempat dalam satu pemikiran. Soal pengabdian, menjadi pendidik di sekolahan. Engkau dan aku ingin mengabdi dengan murni mengabdian. Bukan karena profesi untuk menunjang kebutuhan finansial. Engkau dan aku akan bekerja, berkarir lebih dulu sampai kebutuhan ekonomi terpenuhi sebelum akhirnya mengabdikan menjadi seorang pendidik. Satu tujuan mulia yang memang dan sungguh aku telah lama merencanakannya. Kita juga sempat bersalaman karena kesamaan pikiran.
Aku senang karena kulihat engkau senang malam itu. Aku senang karena engkau senang. Apalagi kalau aku yang menyenangkanmu. Jika memang benar engkau dalam senang, doaku agar ia tak dapat hilang.
Batang, 16 Oktober 2014
Pencegalan Rasa
Catatan [19]
Terutama ketika pencegalan non fisik telah berpengaruh terhadap pencegalan fisik. Kita tak lagi memiliki semangat karena perasaan kita terlarang atau dengan sengaja dilarang. Baik oleh keadaan, maupun seseorang yang karena tak begitu faham lingkungan, secara tidak sadar, mencegal rasa pada orang lain untuk tersampaikan. Sesuatu yang dianggap baik dari sebab pertimbangan sepihak dan kasuistik. Padahal belum tentu. Sebab, kejadian selalu memiliki latar historis yang mempengaruhi.
_Pecegalan non fisik yang lebih sadis dari pencegalan fisik. Adalah pencegalan rasa yang berpengaruh terhadap sikologis.
Terutama ketika pencegalan non fisik telah berpengaruh terhadap pencegalan fisik. Kita tak lagi memiliki semangat karena perasaan kita terlarang atau dengan sengaja dilarang. Baik oleh keadaan, maupun seseorang yang karena tak begitu faham lingkungan, secara tidak sadar, mencegal rasa pada orang lain untuk tersampaikan. Sesuatu yang dianggap baik dari sebab pertimbangan sepihak dan kasuistik. Padahal belum tentu. Sebab, kejadian selalu memiliki latar historis yang mempengaruhi.
Cerita Yang Hilang
Catatan [22]
Cerita apa, tentangmu, yang ingin aku buat makin terasa sulit. Ada bisu dalam kata, dalam pikir dan tangan yang terasa berat untuk diangkat, melangkahi huruf demi huruf dalam keyboard. Satu sebab karena perasaan yang makin menyala. Terutama ketika isyarat bisu sering engkau lihat dan rasakan, mungkin. Aku merasa senang ketika karena aku engkau mengulum senyum. Aku selalu hanyut dalam rasa yang mungkin berlebihan, yang aku tak tahu, barangkali satu saat akan menjadi ingatan yang menyakitkan. Itu engkau yang akan lebih tahu, cerita akan menjadi berbeda atau tidak.
_Kehabisan kata dan Cerita. Satu Sebab karena rasa yang makin menyala.
You are not Alone
Catatan [23]
Catatan ini akan aku mulai dari ketika engkau akan memasuki balai desa untuk kegiatan rutin kita, bimbel. Saat itu engkau bersama teman kita Nining, dengan mengendarai motor memasuki halaman. Kusapa engkau dengan candaan, belanja atau tidak malam ini. Bertepatan dengan malam kamis, dimana, warungasem dimeriahkan dengan adanya pasar tiban. Ada keramain di sana. Kusapa engkau karena lebih dari satu kali ketika malam tiban tiba, engkau tampak asik dengan sebagian barang pasar yang tesedia.
Catatan ini akan aku mulai dari ketika engkau akan memasuki balai desa untuk kegiatan rutin kita, bimbel. Saat itu engkau bersama teman kita Nining, dengan mengendarai motor memasuki halaman. Kusapa engkau dengan candaan, belanja atau tidak malam ini. Bertepatan dengan malam kamis, dimana, warungasem dimeriahkan dengan adanya pasar tiban. Ada keramain di sana. Kusapa engkau karena lebih dari satu kali ketika malam tiban tiba, engkau tampak asik dengan sebagian barang pasar yang tesedia.
Akhir Cerita dan Perlu Engkau Baca
Catatan [24]
Dari mana aku harus memulai catatan ini, kebingungan yang luar biasa tengah aku alami.
Ini soal sikap, soal catatan ini, dan soal bagaimana aku harus selalu menyenangkanmu di setiap waktu di setiap kita dalam temu. Tak inginku senyum itu hilang karena satu kata atau sikap yang tidak engkau suka. Apa lagi sampai membuat engkau ilfil, satu sikap buruk yang bagimu adalah kesalahan tanpa ampun. Termasuk juga ketika catatan ini engkau baca satu demi satu.
Dari mana aku harus memulai catatan ini, kebingungan yang luar biasa tengah aku alami.
Ini soal sikap, soal catatan ini, dan soal bagaimana aku harus selalu menyenangkanmu di setiap waktu di setiap kita dalam temu. Tak inginku senyum itu hilang karena satu kata atau sikap yang tidak engkau suka. Apa lagi sampai membuat engkau ilfil, satu sikap buruk yang bagimu adalah kesalahan tanpa ampun. Termasuk juga ketika catatan ini engkau baca satu demi satu.
Kau Ajarkan Aku Ketenangan
Jangan biarkan senyum ini hilang
Diterpa bisik angin yang mulai kencang di pelataran rumah tempat kita tinggal
Senyum yang menggulum saat engkau dalam kilas pesan senang,
Saat engkau aku bisikkan bait-bait rasa yang mulai melintang
Ini Catatan Hati
Catatan [1]
Aku senang jika engkau senang. Diam-diam aku memperhatikanmu dari dekat saat kita dalam tempat yang sama. Di tempat makan atau di balai desa saat kita kumpul untuk satu agenda. Atau di tempatmu yang tak jauh dari balai desa. Engkau selalu tersenyum, tertawa lepas saat teman-teman termasuk aku mengeluarkan lelucon. Ya, kita dalam satu tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) IAIN Walisongo Semarang. Di posko 3 Desa Batang Batang.
_Aku senang jika engkau senang. Dalam diam kukatakan. Kata tanya yang tak perlu engkau jawab. Namun perlu engkau tanggap walau sekadar dengan senyum kecut.
Status saya hari ini.
Aku senang jika engkau senang. Diam-diam aku memperhatikanmu dari dekat saat kita dalam tempat yang sama. Di tempat makan atau di balai desa saat kita kumpul untuk satu agenda. Atau di tempatmu yang tak jauh dari balai desa. Engkau selalu tersenyum, tertawa lepas saat teman-teman termasuk aku mengeluarkan lelucon. Ya, kita dalam satu tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) IAIN Walisongo Semarang. Di posko 3 Desa Batang Batang.
Awal Kata
Teruntuk yang istimewa. Yang mengajarkanku ketenangan. Inilah aku dengan jiwa yang terpotong. Mengajimu dalam huruf tanpa harokat, dalam lafal tanpa sakal, dan dalam kalimat ambiguitas dari sebuah pesan. Ini sebuah catatan. Coretan perjalanan hati dalam sebuah ‘pementasan’. Atau mungkin lebih tepat dengan sebuatan sebuah mimpi dari tidur yang hanya sebentar.
Langganan:
Komentar (Atom)