Antara senang dan sedih saat banyak waktu kita selalu bersama. Senang karena setiap waktu dapat kulihat engkau, dengan senyum yang selalu mengembang. Atau percakapan kita yang mulai mencair terutama ketika aku dapat mencandaimu. Dan setelah itu aku mulai tersadar, kalau kita hanya dalam panggung sementara. Saat-saat, mungkin, dimana tak akan ada lagi pertemuan, dan senda itu perlahan telah memudar. Dan tentang kesadaran bahwa hati yang engkau punya telah lebih dulu engkau pertaruhkan untuk orang lain.
Kita bertemu dalam banyak waktu hari ini. Dari ketika aku datang ke tempatmu, dan di sana aku belajar bahasa inggris, ketika kita makan bersama saat kesempatan itu telah jarang terjadi mulai beberapa hari yang lalu, ketika engkau untuk waktu yang lama di balai desa mendengarkan kami menyanyi dan sempat pula engkau ikut melakukannya, ketika kita bertemu dalam program bimbel, dan terutama ketika kita dalam rapat bersama membahas persiapan penutupan. Aku disampingmu saat itu.
Kadang sedikit aku menoleh. Memperhatikan engkau berbicara atau diam. Dan di sana pula kita sempat dalam canda sederhana, dan aku lihat senyum keikhlasan yang engkau beri, menanggapi senda kecil itu.
Kita makan bersama untuk beberapa waktu yang telah berlalu. Satu pemandangan yang juga membuat aku harus bersedih saat dalam banyak waktu bersamamu. Saat dalam perjalanan menuju balai, engkau tengah dalam cakap dengan seseorang. Lewat handphone. Tak tau siapa yang engkau ajak bicara di seberang sana. Engkau tanpak serius saat kami mencandaimu. Sepertinya memang, dari dseberang, ia adalah orang yang tengah merindukanmu.
Antara senang dan sedih. Senang dalam waktu singkat dan ketidakpastian. Sedih dalam kenyataan yang tak dapat terhiburkan. Antara nyata dan bayang. Tentu kenyataan harus lebih diterima. Sekalipun bayangan akan menjadi hantu gentayangan.
Batang, 15 Oktober 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar