Jangan biarkan senyum ini hilang
Diterpa bisik angin yang mulai kencang di pelataran rumah tempat kita tinggal
Senyum yang menggulum saat engkau dalam kilas pesan senang,
Saat engkau aku bisikkan bait-bait rasa yang mulai melintang
Jangan biarkan senyum ini hilang
Aku terbata mengajimu dalam huruf-huruf tanpa harrokat,
Aku tertatih manafsirkan lafal-lafal tanpa sakal,
Dan aku harus mulai merenung ketika kalimat-kalimat sederhana untuk engkau dengar aku meramunya dalam gelap malam
Inilah aku dengan jiwa yang terpotong
Di pinggiran jurang air mata aku diam saat engkau ucapkan bait kerinduan untuk orang yang tak kukenal
Inilah aku dengan jiwa yang terpotong
Melafal doa-doa kala petang menyambang,
menyanyikan lagu rindu,
Dan lewat catatan kecil itu, kerinduan tumpah telanjang
Saat mereka telah pulas di keheningan malam
Teruntuk engkau
Yang mengajarkanku ketenangan
Inilah aku dan jiwa yang terpotong
Mengajimu dalam ruang dan waktu, dalam huruf tanpa harokat, semoga makna dapat terserap walau waktu tak sempat jadikan engkau dan aku saling bercakap.
Batang, 27 oktober 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar