Minggu, 11 Januari 2015

Kataku Yang Kau Suka

Catatan [18]

_Tangan ini yang akan mengatakan. Lidahku tak pandai bertutur dan terlalu kasar untuk orang selembut engkau

Itu kataku yang kau suka. Kata yang sebenarnya kepada engkau aku khususkan. Kata yang aku sampaikan lewat media sosial. Kata pertama yang engkau suka setelah kata-kata lain telah banyak kukatakan. 

Aku senang engkau menyukai sekalipun, mungkin, engkau tak tahu kata itu untuk siapa. Dan lebih senang andai engkau menegrti, lewat nalurimu, kata itu memang untuk engkau aku khususkan.
Malam itu kita dalam satu ruangan. Ruangan yang seringkali mempertemukan kita selain di meja makan. Kantor balai desa. Sempatku mendengar engkau menyanyi. Sebuah lagu tentang kehidupan dua insan, kenangan, kalau tidak salah. Sembari aku sibuk dengan laptop, diam-diam aku mendengarkan engkau menyanyi. 

Malam itu juga kita dalam cakap yang panjang. Aku tidak menyangka engkau akan menghampiriku dan duduk di sampingku dalam waktu yang tidak sebentar. Ketika engkau mendekat, engkau mungkin tak tahu, kalau aku tengah menulis catatan ini. bukan proposal skripsi yang aku perbaiki. Untuk cepat-aku berpindah halaman, hingga engkau tak tahu kalau sebenarnya catatan ini yang aku tuliskan. Aku menutupnya, menunda menuliskannya, saat kita dalam kebersamaan.

Aku dalam cerita. Engkau dalam cerita. Kita dalam cerita bersama yang tanpa rencana. Sebagian ceritamu tentang alasan mengapa bisa sampai di IAIN dan dalam jurusan bahasa inggris. Karena senang, katamu. Engkau juga bercerita keinginanmu kuliah di jurusun kebidanan. Karena tak mendapat izin dari keluargamu, keinginan itu tidak tercapai. 

Kita sempat dalam satu pemikiran. Soal pengabdian, menjadi pendidik di sekolahan. Engkau dan aku ingin mengabdi dengan murni mengabdian. Bukan karena profesi untuk menunjang kebutuhan finansial. Engkau dan aku akan bekerja, berkarir lebih dulu sampai kebutuhan ekonomi terpenuhi sebelum akhirnya mengabdikan menjadi seorang pendidik. Satu tujuan mulia yang memang dan sungguh aku telah lama merencanakannya. Kita juga sempat bersalaman karena kesamaan pikiran. 
Aku senang karena kulihat engkau senang malam itu. Aku senang karena engkau senang. Apalagi kalau aku yang menyenangkanmu. Jika memang benar engkau dalam senang, doaku agar ia tak dapat hilang.  

Batang, 16 Oktober 2014 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar