_Enggel-nya belum dapat. Tapi objeknya sudah. Engkau. Ini cerita. Bukan Berita
Ini cerita. Bukan berita. Cerita tentangmu dari waktu ke waktu sampai kesempatan bercerita itu terbatas oleh tempat karena kita sudah tidak saling dekat. Ini bukan berita karena tidak akan dipublish secara massal atau untuk umum hingga banyak orang yang tahu. Aku bisa mati dihujat waktu, jika aku ‘gila’ dan tak bisa menyembunyikan rasa yang hasilnya tidak pasti.
Sisi bagian mana yang akan menjadi fokus catatan ini, aku belum tahu. Sebab hari ini kita tak kerap bertemu, tak lama dalam tempat dan waktu kecuali pagi tadi ketika engkau menjemput motor dan meminta laptop untuk engkau bawa ke kamarmu. Dan malam ini kita bertemu di sebuah keramain di kota pekalongan. Pekan Batik Nusantara yang diselenggarakan oleh pemerintah pekalongan menjadi sebab kita bertemu kembali.
Engkau datang dari satu arah ketika aku dan teman-teman menikmati kopi di angkringan di pinggir jalan. Mengenakan celana jeans hitam, jaket kain kaos hijau dengan krudung warna biru muda. Engkau menghampiri kami karena kami memanggilnya melalui media sosial yang kita buat: group BBM. Engkau datang untuk menjemput kami dan mengajak kami untuk pindah ke tempat engkau dan teman2mu duduk: di pinggir panggung utama, di lapangan dekat musium Batik Pekalongan.
Kita memang tak berangkat bersama. Engkau lebih dulu, sejak hari menyambut senja. Dan kami dari para lelaki baru berangkat ba’da shalat maghrib. Karena ajakanku untuk menyusul kalian ke acara itu, aku akhirnya dapat menemui dalam ramai dengan dandan yang menurutmu sudah pantas. Engkau tidak menor tapi juga tidak terlihat katrok. Kolaborasi antara sifat lembutmu dan tren pakaian saat ini.
Di sana kita tidak sempat berbincang. Karena suasana ramai memang untuk memuaskan mata terhadap sajian hiburan. Hanya sekilas aku melihatmu, dan itu terjadi berulang-ulang. Aku melihat engkau saat ngobrol dengan teman disampingmu, aku melihatmu saat engkau menaruh dagu di atas tangan kananmu, aku melihatmu saat engkau memainkan handphone dan aku juga melihat saat engkau tersenyum ketika tiba-tiba aku di belakangmu, di pinggir terop, di depan panggung bagian belakang di lapangan itu.
Terakhir aku mengambil fotomu dari arah samping. Bersama dua orang teman kita, foto yang kamu berada di posisi tengah sembari mendongkakan dagu itu aku posting di group dengan komentar engkau sedang melamun.
Banyak cara untuk mengetes perhatian, termasuk dengan cara itu, sebenarnya hanya ingin engkau tahu respek atau tidak engkau dengan foto itu.
Kita pulang tanpa kata karena memang tak ada yang harus dikata. Kecuali isyarat rasa yang masih terus ada. Dan rasa itu aku yang punya. Engkau? Aku tak tahu.
Batang, 12 Oktober 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar