Minggu, 11 Januari 2015

Ini Catatan Hati

Catatan [1]


_Aku senang jika engkau senang. Dalam diam kukatakan. Kata tanya yang tak perlu engkau jawab. Namun perlu engkau tanggap walau sekadar dengan senyum kecut.

Status saya hari ini. 

Aku senang jika engkau senang. Diam-diam aku memperhatikanmu dari dekat saat kita dalam tempat yang sama. Di tempat makan atau di balai desa saat kita kumpul untuk satu agenda. Atau di tempatmu yang tak jauh dari balai desa. Engkau selalu tersenyum, tertawa lepas saat teman-teman termasuk aku mengeluarkan lelucon. Ya, kita dalam satu tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) IAIN Walisongo Semarang. Di posko 3 Desa Batang Batang. 


Dalam diam kukatakan. Aku senang melihatmu. Kulit putih dengan wajah bundar dan pipi tembem. Engkau Nampak imut-imut walau usia telah menempatkanmu di semester XI, lebih tua dariku yang baru menempuh semester IX. Engkau lebih halus dan suara lebih lembut dari yang lain. Engkau juga Nampak lebih cantik. Tentu saja ini penilain subjektif. Tapi aku menilainya demikian.

Kata tanya yang tak perlu engkau jawab. Bagaimana engkau memandangku dibanding dengan yang lain? Sama saja, ataukah ada suatu yang berbeda? Semua itu tak perlu engkau jawab karena pertanyaan itu tidak akan pernah muncul. Kecuali engkau memang punya penilaian yang berbeda, engkau akan memberikan pernyataan sekalipun tidak akan pernah keluar dari bibirmu. 

Namun perlu engkau tanggap walau sekadar dengan senyum kecut. Jika engkau mengerti bahwa aku adalah orang yang selalu memperhatikanmu. Dan kamu tidak suka atas perhatian dan penilainku padamu, inginku hanya tak perlu engkau benci, dengan selalu berpaling padaku. Jangan tampakkan kebencian itu. Tetap bermanis-manislah di depanku. Berbahagialah dengan lelucon yang selalu kubuat walau hatimu tak menerima tentang sikap hati dan rasa senangku.

Aku baru senang. Bukan cinta. Dan lebih ingin tahu tentangmu. Tentang segalanya termasuk, sudahkah engkau punya calon untuk hidup bersamamu.

Aku ingin berbicara banyak hal. Namun, aku tak ada pengetahuan harus mulainya dari mana. Aku tak cakap bagaimana berkenalan dengamu. Dan bagaimana aku dapat mengenalmu. Ya, karena aku memang tidak ahli dalam bidang ini. Apalagi wanita macam kamu yang mungkin akan selalu membuat aku ‘gemetar’, lalu diam tanpa kata ketika harus bertemu. 

Sekilas tentangku. Aku belum punya seseorang yang spesial yang telah aku miliki. Aku selalu berfikir, orang yang aku temui dan aku merasa senang dengannya, akankah ia adalah pilihan tuhan atas diriku? Aku selalu percaya, bahwa sesuatu yang disengaja kadang memang berawal dari satu ketidaksengajaan. Termasuk pertemuan kita. Siapa menyangka bahwa engkau dan aku akan berada dalam satu tim. Akan selalu bertemu selama 36 hari. Akan selalu ada penilain pada masing-masing. Dan seterusnya. 

Cerita kakak-kakak seneor, KKN selalu menjadi alasan mahasiswa menjalin hubungan satu sama lain. Hubungan khusus maksudnya. Dan sejauh yang saya tahu demikian memang.

Engkau masih ingat bukan! ketika bapak camat memberikan pengarahan di Audit 2 kampus III sebelum kita berangkat? “Istri saya yang sekarang itu adalah hasil KKN,” katanya disambut sorak mahasiswa. 

Ini bukan sekadar gurauan. Tapi, satu bukti yang sudah terbukti dari generasi ke generasi. Orang-orang menyebutnya dengan cinta lokasi.

Ini hanya catatan hati. Setelah empat hari aku di sini. Sudah banyak catatan yang aku buat. Ini catatan ke-5. Catatan hati. Tentangmu. Asfiatul Ummah. 

Batang, 03 Oktober 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar