[1]
Semakin terasa, engkau dalam lembut, memperlakukan anak-anak itu adalah satu keistimewaan tiada duanya. Engkau adalah calon pendidik yang akan mengajari banyak orang, kelak, terutama untuk anak-anakmu agar ia menjadi orang hebat. Engkau adalah calon ibu yang akan mengerti akan kebutuhan kasih sayang seorang anak.
Aku melihatmu dalam diam. Meperhatikanmu saat anak-anak itu dengan sifat kekanakannya kadang membuat jengkel, engkau dalam kelebutan sikap dan suaramu, menyuruhnya untuk tertib mengikuti pelajaran yang akan engkau dan kawan-kawan kita kita sampaikan.
Setelah itu, engkau mengajarinya satu persatu dengan penuh kesabaran- Mungkin, karena aku tak dapat membaca hati. Dari caramu memperlakukan mereka, engkau ada di sana. Dalam kesebaran yang untuh.
[2]
Ah, lagi-lagi aku terbawa perasaan yang tak tahu harus kutumpahkan-kecuali ke sebuah cacatan ini- jika harus mengingat tentangmu yang sudah punya, bahkan dikabarkan engkau akan menikah walau tanpa aku tahu dalam waktu dekat atau masih jauh.
“Masih sekitar tiga sampai empat tahun lagi,” katamu di senja itu ketika kita bersama menuju tempat makan.
“Tiga sampai empat tahun, apa tiga sampai empat bulan lagi. atau tiga sampai empat minggu lagi. atau jangan-jangan setelah KKN,” candaku dan kawan-kawan yang lain.
“Masih lama,”
Kau ulangi kata itu ketika kita sudah di ‘meja’ makan. Aku memperhatikanmu wajah tenang, walau harapan kecil perlahan mulai terputus. Itulah terakhir kali kita makan bersama sampai catatan Perempuan Dalam Cerita Senja aku buat.
Dan malam ini, kita kembali dipertemukan dalam rutinitas keseharian. Dan aku saksikan pula mengkau yang masih dalam kelembutan sikap yang semakin tanpak. Ya, catatan kecil ini lahir dari sana. Sengaja aku tulis sebagai catatan spesial KKN, dan lebih khusus catatan tentang tentangmu, atau catatan sengaja aku beri nama ‘Phia in a Note, 36 hari dalam sebungkus cerita’
[3]
Dalam cinta ada rasa. Senang utamanya. Tanpa bertemupun, engkau akan sedikit merasakan hal yang berbeda ketika yang engkau pegang, yang engkau gunakan atau yang engkau lihat berhubungan dengan orang yang engkau cinta.
Sebut saja, engkau sedang mencuci baju kekasihmu. Atau engkau membelikan sesuatu atas permintaan ke kasihmu. Atau pula engkau sedang mengunakan barang kepunyaan kekasihmu. Tanpa engkau pungkiri, insting rasamu akan menarik untuk selalu mengingat dia kekasihmu, sang pemilik benda itu.
Terlalu berlebih jika aku katakan, betapa senangnya aku dapat menggunakan motormu. Secara sederhana, engkau selalu kuingat sepanjang jalan ketika, untuk kita aku membeli minuman, yang aku pakai adalah motormu. Honda Spacy dengan nomer polisi B 3583 FHB.
Ini sederhana dan mungkin agak berlebihan bila sampai masuk dalam catatan ini. Satu alasan mengapa ini harus terjadi karena aku ingin memperhatikan setiap detail dari apapun tentangmu. Dan yang lebih penting tentang perasaan dan kebutuhanmu. Bila aku tahu tentang jodoh dan engkau aku tahu bukan jodohku, perbuatan ini tidak akan pernah terjadi. Manusia, aku, hanya dapat menaksir, meraba namun tidak dapat menentukan takdir yang akan mereka alami di masa setelah masa yang sedang kita lewati.
[4]
Malam itu engkau mengajakku lari pagi, berputar-putar di lapangan di depan sekolah MTs Wahid Hasyim menjelang esok pagi. Sekitar jam 07.00 katamu. Aku siap menemanimu sekalipun nyaliku akan ciut bila itu terjadi dan hanya ada aku dan engkau.
Pagi itu, demi engkau, aku tak tidur lagi usai melaksanakan shalat subuh. Menunggumu mengonfirmasi rencanamu untuk olahraga pagi. Engkau tertidur rupanya hingga rencana kita gagal.
Sebelumnya, secara implisit sudah kuajak seorang teman untuk bersama kita. Ya, agar tidak begitu kentara jika aku telah kehilangan logika ketika bersamamu. Kehingan logika hingga yang nampak hanyalah rasa yang mungkin akan membuat wajah memerah dan salah tingkah.
Engkau akan olahraga pagi agar, angpanku, engkau tidak semakin telihat gemuk yang akan membuat kedua pipimu nampak tembem. Engkau risau dengan itu sebab kebanyakan perempuan memang tidak suka dengan postur tubuh yang gemuk. Mereka lebih suka dengan penampilan yang seksi agar terlihat cantik dan anggun.
Dan bagiku, aku lebih suka dengan penampilanmu yang sekarang. Pipi tembemmu membuat engkau lebih nampak imut dan unyu-unyu. Engkau tidak gemuk. Hanya medekati gemuk yang mungkin membuat orang-orang merasa gemes ketika melihatmu. Aku melihatnya dengan sudut pandang positif dan tak perlu engkau risaukan kecuali kekasihmu yang merisaukannya.
[5]
Engkau dalam sibuk memainkan handphone di sebuah kursi di rungan ini, kantor balai Desa Warungasem. Sesekali aku melihatmu. Engkau masih tanpak sibuk di sana.
Group BBM Tim KKN Posko 3 adalah media komunkasi kita dalam keterpisahan. Meskipun hanya berisi candaan, media itulah yang membuat kita makin akrab satu sama lain. seperti perlahan-lahan membangun hubungan emosional antara kita satu tim.
Malam itu tak ada yang menjamah, mengirimkan sesuatu di group itu. Kesempatanku untuk meramaikan yang sejatinya hanya ingin mengetahui, adakah tanggapan darimu yang Nampak sedang sibuk itu. Aku kirimkan kata ‘Cek Cek’ dengan tambahan symbol kepala berkacamata.
“cok cok” tulismu kemudian setelah lebih dahulu orang lain juga ikut berkomentar. Engkau saru, kataku langsung kepadamu. Karena kalimat itu bisa dibaca ‘cuk’ dengan kalimat lengkap ‘jancuk’.
Tawamu pecah saat itu, menimpali cakapku atas engkau yang sedari tadi aku lihat tengah menyibukkan diri. Akhirnya, aku, kamu dan kita semua dalam cakap di media itu.
Ya, ini cerita terakhir tentangmu malam ini. Lebih detail aku ingin menuliskannya untuk hari berikutnya. Kumpulan catatan kecil dengan sampul bertuliskan ‘Phia in a Note, 30 Hari dalam Sebungkus Cerita’ kan menjadi tranding topik diantara catatan-catatan yang lain di catatan Spesial Edisi KKN di Batang.
Catatan tengah malam.
Batang, 10-11 Oktober 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar