Dari mana aku harus memulai catatan ini, kebingungan yang luar biasa tengah aku alami.
Ini soal sikap, soal catatan ini, dan soal bagaimana aku harus selalu menyenangkanmu di setiap waktu di setiap kita dalam temu. Tak inginku senyum itu hilang karena satu kata atau sikap yang tidak engkau suka. Apa lagi sampai membuat engkau ilfil, satu sikap buruk yang bagimu adalah kesalahan tanpa ampun. Termasuk juga ketika catatan ini engkau baca satu demi satu.
Semula catatan ini kuanggap hanya akan terselip diantara banyak catatan lain yang telah kubuat, sebagai potret-potret di setiap ruang dan waktu dimana kaki ini kulangkahkan. Catatan yang murni bersifat Objektif (dalam subjektifitas) tanpa ada tendensi dan kepentingan-kepentingan apapun dari luar.
Waktu terus berjalan. Kita dalam akrab meskipun masih tak kutahu banyak tentangmu. Kecuali satu anggapan sementara bahwa engkau termasuk wanita dengan tipe penikmat. Tak kulihat engkau sebagai orang yang mencari pasangan hanya untuk main-main. Tak kulihat engkau sebagai wanita yang suka dengan kata-kata kotor. Dan aku melihat engkau adalah seorang wanita realis yang tidak terlalu ingin menggantungkan diri kepada orang lain. Dalam satu kesempatan ketika kita berbincang soal keinginan di masa depan, engkau ingin berkarir, ingin bekerja, ingin punya usaha dan macam-macam untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Jika itu benar, dugaanku juga benar bahwa cinta dan kasih sayang menjadi hal terpenting bagi orang sepertimu. Jika anggapanku salah ini hanya dugaan, satu sebab karena pengetahuanku yang belum begitu mendalam atas dirimu.
Sejak itu aku mulai berfikir, sepertinya engkau perlu membaca catatan-catatan ini. Satu cara yang asing dan mungkin tidak pernah dilakukan oleh banyak orang dalam mengungkapkan perasaan. Teruntuk orang yang istimewa, yang telah mengajarkanku ketenangan.
Dalam catatan sebelumnya telah kukata kalau hati ini tak bisa tenang, selalu salah tinggkah yang menyebabkan wajah memerah, saat bertemu seseorang dalam rasa. Dan hari ini sikap itu mulai berkurang hingga kita bisa saling ngobrol seolah tanpa beban walau di kedalaman hati rasa selalu berkecamuk.
Engkau akan membaca catatan ini satu demi satu hingga selesai. Inilah satu alasan mengapa catatan ini mungkin harus terhenti sebelum ‘pentas’ kita di Warungasem selesai. Ketika satu catatan telah tersusupi satu tendensi, maka catatan itu tak lagi murni dari kedalam hati dan pikiran. Ia akan dipengaruhi oleh objek kenapa catatan itu harus ada. Jika catatan selanjutnya terus menerus aku masukkan dalam catatan ini pastilah ia tak lagi murni dari hati dan pikiran yang mendalam. Bisa saja hanya buaian kosong dan berlebihan.
Jika tak ada konsistensi antara satu bagian dengan bagian yang lain, satu sebab karena catatan ini tak lepas dari ruang dan waktu. Dari rasa yang semula biasa, agak tidak biasa, tidak biasa sampai satu satu keyakinan mengapa catatan ini, menurutku, perlu engkau baca.
Semoga engkau suka. Dan, agar jika telah sampai pada waktunya aku dapat mendengar sendiri suara kentutmu yang katanya nyaring itu, haha piiiiis :-p
Batang, 24 Oktober 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar