Minggu, 11 Januari 2015

Pencegalan Rasa

Catatan [19]

_Pecegalan non fisik yang lebih sadis dari pencegalan fisik. Adalah pencegalan rasa yang berpengaruh terhadap sikologis.

Terutama ketika pencegalan non fisik telah berpengaruh terhadap pencegalan fisik. Kita tak lagi memiliki semangat karena perasaan kita terlarang atau dengan sengaja dilarang. Baik oleh keadaan, maupun seseorang yang karena tak begitu faham lingkungan, secara tidak sadar, mencegal rasa pada orang lain untuk tersampaikan. Sesuatu yang dianggap baik dari sebab pertimbangan sepihak dan kasuistik. Padahal belum tentu. Sebab, kejadian selalu memiliki latar historis yang mempengaruhi.


Rasa bukan logika yang karena pertimbangan logis dapat diputar dari satu keadaan ke keadaan lain, dari hal positif ke negatif atau sebaliknya, atau dari kesalahan ke kebenaran. Rasa adalah bagian ‘intusi’ kalau boleh aku menyebutnya. Ia datang begitu saja dari tempat pembuat rasa. Karena pertimbangan-pertimbangan logis pula, rasa akan tumbuh subur. Menjadi satu rancangan untuk lebih dimaknai sebagai satu kemuliaan. Kemuliaan karena tak aka nada kebohongan dalam rasa yang subur karena hasil dari logika yang benar. 

Engkau dan aku. Aku adalah pemilik rasa, untuk engkau yang juga punya rasa dan entah untuk siapa. Rasa sederhana yang diulur waktu menjadi tumbuh subur. Logika rasaku, mungkin telah engkau cermati dalam catatan sebelumnya. Itu yang terjadi. 

Pencegalan rasa ketika aku yang untuk engkau rasa itu dianggap tak ada. Satu pernyataan dari teman kita yang, mungkin, masih engkau ingat: “Semuanya di sini sudah pacar masing-masing” katanya.
Saat itu kita berbincang bersama dalam kamar, usai bimbel, setelah teman kita, putri, sembuh dari ‘pingsan’. Kita dalam canda, sampai pada pembahasan soal kentut yang masih hangat tadi malam.  Saat itu engkau yang menjadi objek bulan-bulanan.

“Yang penting pacar kamu tidak tahu. Dan kamu masih akan terlihat anggun di hadapannya. Ini sekaligus menghindari cinlok”kata itu ia sampaikan kepadamu dan masih kuingat sebelum kata di atas keluar.

Satu pernyataan ‘egois’ dan tanpa dasar. Tanpa pengetahuan yang benar sesuai kenyataan. Aku sedikit tersinggung dan tak sedap mendengarnya. Bagaimana urusan rasa, sebagai urusan pribadi, dapat keluar menjadi bahasan umum, di samping kesalahan berbicara telah mengganggu kenyamanan.

Catatan ini penanda kalau rasa yang aku punya untuk engkau. Tidak untuk orang lain. Bagaimana mungkin aku punya pacar.

Ini hanya penegas. Catatan hati tentang rasa yang tidak dapat sampai kecuali dengan pena. Semoga yang diberi rasa sempat membaca, mencerna dan tidak menghina sekalipun tidak menerima.

Batang, 17 Oktober 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar