Engkau dalam sedih. Aku merasakannya hari ini. Lewat tulisan singkat dalam media sosial. Sendiri dan tanpa tujuan.#motor2an sore_ngilangin beteyyy# *tear*
“Yang penting jangan kebut2an yuu,” kataku. Engkau hanya tersenyum lewat symbol yang engkau tulis.
Sebelumnya engkau katakan lewat media yang sama: Sampai detik ini belum ada kabar kapan mau diangkatnyaa. Mudah2an minggu depan ada kabar ya Allah.. insya al.
Itu satu kalimat pengharapan akan sesuatu yang engkau inginkan. Kalimat itu engkau katakan dua kali dalam media yang sama. Aku dalam keyakinan, engkau dalam sedih yang amat hingga harus menghibur diri dengan jalan-jalan tanpa tujuan yang jelas.
Hanya mengadaikan, jika engkau butuh orang untuk mengembalikan senyum yang hilang itu, tidak berlebihan, aku akan siap melakukannya kalau engkau memintanya. Bisaku hanya menanggapi mengamini agar apa yang inginkan segera terkabul dan senyum yang hilang itu kembali datang.
Andai aku dapat melihat langsung, barangkali, engkau akan tampak murung. Atau mungkin engkau dan hatimu tengah menghujat sejadi-jadinya mengapa sedih harus engkau terima dari orang yang engkau sayang. Jika benar maksud kalimat itu engkau tunjukkan untuk seorang kekasih.
Karena hidup memang tak dapat memilih untuk bahagia atau sedih. Dan sekalipun engkau dapat menentukan pilihan, barangkali engkau akan merasa bosan dengan kebahagiaan yang engkau jalani. Ya, kadang kebahagiaan memang harus mengorbankan cucuran keringat dan tetesan air mata. Bukankah engkau juga tahu kalau seseorang mesti butuh lapar untuk selalu merasakan nikmatnya makan. Ini bukan nasihat. Hanya konsep hidup sederhana yang sering menjadi semangat untuk orang, aku, untuk terus melangkah.
Sore itu engkau dengan motormu berjalan entah kemana. Aku melihatmu usai itu, ketika memasuki gang samping kediaman bapak lurah. Engkau yang sempat kumimpikan terulang dalam mimpi sadar yang sama. Ingatanku kembali ke 6 tahun silam.
Batang, 16 Oktober 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar