Minggu, 11 Januari 2015

Dia Katakan Hal Yang Sama Tentang ke-Imud-an Mu

Catatan [15]

Perkataan yang sama juga keluar dari mulut orang lain. 

Aku mengamini. ‘iya, engkau benar’ kataku dalam hati. 

Aku lupa nama anak itu. Ia katakan ketika sedang mengikuti kelas ‘mengarang’. Ia berbisik.



“Aku ingin ikut kelasnya mbak Fina,”

“Lah kenapa?”

“Aku suka sama mbak Fina. pipinya unyu2 (Imud-imud)”

“Bukan mbak Fina. Tapi mbak Fia”kataku.

“Besok-besok aja ya.. Kamu sekarang ikut ini dulu. Ini kan digilir. Jadi nanti kamu pasti dapet kelasnya mbak Fia”lanjutku menjelaskan. 

Anak itu kemudian kembali ketempatnya, duduk, dan mengikuti kelas mengarang.
Usai makan malam, aku sempatkan menulis status di BBM. Perkataan yang sama juga keluar dari mulut orang lain. Aku mengamini. ‘iya, engkau benar’ kataku dalam hati.

Seperti ketika aku menggodamu beberapa malam sebelum malam ini. Ketika engkau mengajakku lari pagi karena alasan takut gemuk. Kukatakan  padamu, jika engkau kurus imutnya hilang. Diperkuat dengan perkataanmu, ingin bobok manis.

“bobok imud. Bukan bobok manis,” kataku 

Setelah itu, engkau hilang dari percakapan BBM. Mungkin benar-benar telah Bobo Imud malam itu.
Tentang lari pagi, aku jadi teringat di dua kesempatan. Sama-sama dalam rapat evaluasi dan tanpa sengaja sekilas menyinggung soal lari pagi yang aku engkau ajak waktu itu. 

Engkau katakan, aku mengajakmu lari pagi. Padahal aku ingat betul, kamu yang mengajakku. Aku hanya siap menemanimu jika engkau ingin lari pagi. Muter-muter lapangan sepak bola, katamu.
Aku hamper salah tingkah ketika engkau katakan demikian. Ini satu sikap yang sampai saat ini masih menjadi belenggu dalam hidup yang aku jalani. Ketika berbincang masalah wanita, aku paling merasa kurang nyaman jika harus dibicarakan di muka umum. Malam itu aku merasa tidak nyaman karena takut ketahuan jika engkau sedang dalam pengamatanku. Mulai dari buku catatan atau obrolan kecil yang orang lain tak tahu, semacam gombalan, sedangkan di muka umum tak pernahku mencandaimu secara khusus. Kita hanya terbahak dalam candaan bersama di setiap kesempatan. 

Namun, biar bagaimanapun ini hanya cerita. Satu cuplikan peristiwa hidup yang sengaja aku abadikan untuk aku baca atau aku ceritakan ulang pada anak cucuku kelak. 

Ini cerita malam ini. Cerita tentangmu yang kubuat dengan amat sederhana dan mudah dipahami. Semoga cerita ini membuat engkau lebih ceria, tersenyum dan terbahak jika suatu saat aku punya keberanian mengirimkannya kepadamu. Saat itu mungkin kita memang sudah tak bersama lagi. Dan jika sekalipun engkau tak suka, engkau tak akan terganggu karena keberadanku. Aku bersyukur jika catatan ini membuatmu senang, dan aku engkau kenang sekalipun hanya dalam bayang. Aku, dan mungkin engkau juga, akan bernostalgia dengan hari-hari saat kebersamaan kita. 

Batang, 14 Oktober 2014 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar