Minggu, 11 Januari 2015

Dasar Aku Tak Tau Diri

Catatan [8]


_Maaf itu ketika aku berbuat salah. Tak akan terulang satu kata yang karena itu engkau tak suka.

Kulihat raut wajah berbeda ketika kucandakan soal anak pak lurah. Tentang dia yang ingin belajar bahasa arab. Tentang dia yang membutuhkan pembimbing dari kita. Sepertinya engkau tak begitu suka lelaki yang ngomong ceplas-ceplos soal wanita. Aku melihat engkau walau tak secara terus menerus dengan tatapan langsung. Ini hanya dugaan. 


Malam itu kita dalam rapat evaluasi karena membludaknya peserta bimbel, dan kita mengatus strategi agar program kita tetap berjalan efektif. 

Pernyataan ini terlalu berani dan percaya diri yang berlebihan. Karena tak ada hubungan dengan engkau sama sekali dan cataan ini harus aku masukkan. 

Dasar aku ini tak tau diri. Bagaimana bisa candaan yang dapat membuat wanita tidak suka harus keluar di depan engkau yang aku ingin mengenalmu lebih dalam. Tak lebih, sejatinya inginku hanya menyenangkan engkau di setiap kesempatan. Ingin engkau selalu menarik kedua bibirmu hingga tanpak barisan gigi yang tidak rata, yang membuatmu terlihat lebih manis saat tersenyum itu.

Engkau selalu terbahak malam itu. Tapi bukan aku yang membuatnya. Orang lain dari teman kita yang sebenarnya memang humoris. Namun, ia tak menampakkannya sejak awal kita bersama. Aku suka teman seperti itu. Yang membawa permasalahan tidak selalu ruwet. Canda tawak meledak dimana-mana dan kapanpun kami bersama. 

Dasar aku ini tak tau diri. Dan ketidaktahaun diri ini barangkali karena keinginan untuk tidak menutupi segala hal yang ada pada diri. Aku ingin bebas berekspresi. Tidak terkekang oleh apapun dan siapapun. Agar setiap orang mengerti betul terhadap karakterku hingga tak ada kemunafikan, tak ada penyesalan ketika orang-orang memilihku sebagai teman. Mengetahui posisiku dimana ada sesuatu yang tak kusuka. Atau sebaliknya agar orang tahu apa yang aku inginkan.

Satu hal yang harus jujur aku katakan, ketika aku mulai menulis catatan-catatan ini, ada sesuatu yang tanpa sadar aku ‘sah’ kan termasuk bagaimana aku memperhatikanmu setiap saat. Dari yang semula hanya perasaan-perasaan kecil yang terlitas yang akhirnya mewujud dalam satu ‘pengokohan’.

Bahwa benar-benar engkau ingin aku kenal lebih dalam. Sejak itu, tanpa sadar ada sesuatu yang mulai terkekang, semacam mencari simpati dan perhatian. Kemunafikan ini sebenarnya tidak aku inginkan dan perlahan aku hapus hingga engkau benar-benar tahu siapa sebenarnya aku ini.

Batang, 13 Oktober 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar